Jumat, 19 Oktober 2007

ukiran pagi

ukiran pagi


Kutatap cerah mega di pelataran gedung megah
tertata lukisan alam mahakarya agung misteri yang takkan terpecahkan
sungguh elok gradasi cahaya yang tercipta.

Mentari pagi menancapkan sinar di belantara dinding megah
suara sembilu terdengar dari pori ruang , sayup angin berbisik “aku sakit”
tubuhku ngilu, keringatku diperas, oleh sistem yang membelenggu imajinasiku,
langkah ku tersendat, nasibku tak jelas, oleh pesakitan yang ku derita

Suar suar perubahan terjadi
jilat lidah leburkan mimpi bersama
oleh karena keingin pribadi dan kepentingan sekumpulan orang.
ketimpangan, ke tidak adilan, sebuah jamuan makan malaikat jinah
untuk menutup nurani dan kata hati.

dua tetes air mata mengembun terlihat diantara kerutan
wajah senja seorang ibu ,” nak kelak kau besar raihlah bintang dilangit
gunakanlah nuranimu, dan akalbudimu untuk kebaikan semua orang”.
mak” bagaimana “ kuraih bintang disana ??? “mak “ kita selalu terjepit keadaan,
dan terberanggus oleh jerat ketidak “ mampuan” juga gigitan kapitalis.

berai buih kesedihan melingkari jagat
tak kala matahati di gores luka
seribu tanya yang tak terjawab.
menjadi ukiran pagi .
teruntuk ki hadjardewantara

-2006-

Tidak ada komentar: